'Mauki’ makang apa sayan?” tanya saya pada istri tersayang, dan spontan wajah istri memerah menahan tawa yang nyaris meledak. Bukan karena kenyang atau tidak mau makan, namun karena bahasa saya yang okkots. Silahkan ketik kata OKKOTS di mesin pencari, cari foto atau gambarnya, dan mungkin anda akan mendapatkan kelucuan di sana. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.
Okkots adalah salah satu istilah gaul dalam bahasa Makassar. Berasal dari kata OKKO (bahasa Makassar) yang berarti ”injak garis” yang sering dipakai dalam permainan dende-dende (permainan engklek bahasa Jawanya, entah apa bahasa Indonesianya). Kata ”okko” kemudian ditambahkan huruf T dan S, biar kelihatan lebih keren menjadi OKKOTS.
Entah sejak kapan istilah okkots kemudian terkenal seantero Makassar, menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Sekarang ini sejak sekitar tahun 1990-an, istilah okkots beralih dari istilah permainan anak-anak ke istilah sehari-hari yang berarti kesalahan dalam mengucapkan kata, bisa kesalahan karena kelebihan huruf atau kekurangan huruf. Sepengetahuan saya, “kesalahan” ini banyak terdapat dalam bahasa Makassar, lebih tepatnya orang Makassar yang berbahasa Indonesia. Orang okkots seringkali menjadi bahan olok-olokan apabila ada yang salah ucap.
Saat istilah Okkots mulai merajalela dimasa SMP dulu, orang yang berkata-kata okkots spontan diolok-olok oleh teman sepermainannya, walaupun temannya kadang okkots juga. Bahkan kadang dijadikan permainan oleh anak-anak, yang tiba-tiba okkots boleh dipukul bahunya atau disentil tangannya dengan mengadakan perjanjian permainan okkots terlebih dahulu. Seperti permainan didu-didu atau kotak-kotak (yang melihat baju strip atau kotak-kotak lebih dulu boleh menyuruh apa saja).
”Cop, Okkots!!!!” (dan kepalan tangan melayang ke punggung……”bukkk….!!!”), sungguh permainan yang kasar. Namun percayalah, permainan seperti ini berseliweran di Makassar beberapa waktu lalu, entah hari ini, mungkin tersingkirkan oleh Playstation atau game online. Permainan seperti ini membuat Okkots menjadi momok menakutkan bagi anak-anak, bahkan orang dewasa akan merasa malu jika Okkots.
Biasanya orang Makassar salah omong atau bermasalah dengan huruf G, kata-kata yang ujungnya G dihilangkan, lalu kata-kata yang ujungnya N ditambahkan huruf G. Kata-kata yang terpeleset (bertambah atau berkurang huruf G) sudah biasa dan menjadi ciri khas bahasa Makassar.
AWAN menjadi AWANG
HUJAN menjadi HUJANG
UANG menjadi UAN
HUJAN menjadi HUJANG
UANG menjadi UAN
Kelebihan atau kekurangan huruf G dalam bahasa atau lidah Makassar tidak salah karena memang menjadi kebiasaan dalam bahasa Makassar. Coba lihat huruf Makassar berikut.
Dari huruf lontara tersebut, ada suku kata tambahan yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Suku kata yang ”tidak lazim” tersebut adalah NKA, MPA, NRA, NCA yang terdapat pada akhir kata bahasa Makassar. Itulah (mungkin) yang menyebabkan lidah orang Makassar terbiasa menyebut kata-kata tersebut dan menyebabkannya Okkots jika dilantunkan dalam bahasa selain Makassar.
Sebagai contoh konkrit, tidak dikenal nama MAKASSAR sejak dulu, namun MANGKASARAK (bahasa Makassar) atau MANGKASA (bahasa Bugis). Namun karena pengaruh modernisasi bahasa kedalam Bahasa Indonesia, huruf NG dihilangkan dan jadilah kata MAKASSAR yang dikenal hingga hari ini.
Contohnya saja di Makassar, dalam komunikasi sehari-hari biasanya menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan logat Makassar. Perpaduan ini melahirkan sebuah logat khas ala Makassar yang tergolong unik. Unik karena didalam penyusunan kalimatnya ditambahkan partikel-partikel tambahan misalnya Mi, Ki, Ko, Ji, Na, Ka, Pi, dan Ma. Saya akan memberikan beberapa contoh kalimat yang menggunakan partikel-partikel tersebut.
· Jangan mi lama-lama : artinya jangan lama-lama
· Lagi dimana ki sekarang? (”Ki” untuk kalimat yang lebih sopan): artinya kamu sekarang lagi dimana?
· Lagi dimana ko sekarang? (”Ko” kalimatnya kurang sopan biasa diperuntukkan bagi teman sebaya atau orang yang lebih muda) : artinya kamu sekarang lagi dimana?
· Jangan ma ko khawatir, tidak apa-apa ja ka : artinya jangan khawatir, saya tidak apa-apa
· Kapan-kapan pi baru ke sana ki lagi: artinya kapan-kapan ya baru ke sana lagi
Punya na ji mamaku : artinya punya ibu saya (Ji maknanya untuk menggampangkan masalah atau menyepelekan sesuatu. Jadi makna sesungguhnya dari kalimat tersebut ingin menunjukkan bahwa tidak perlu khawatir barang itu milik ibu saya kok)
Mungkin orang-orang di luar Makassar merasa lucu atau bahkan aneh membaca contoh-contoh diatas apalagi jika mendengarnya secara langsung. Memang tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baku. Tapi itulah realitas kami sehari-hari sebagai orang Makassar dalam bergaul dan berkomunikasi, tetap berbahasa Indonesia tapi dipadu dengan partikel-partikel khas logat Makassar.
Masih ada yang lebih unik lagi dari logat Makassar yaitu “Okkots”. Apa itu “Okkots”? Lidah orang Makassar terkadang keseleo penyebabnya karena kelebihan vitamin G dengan menambahkan huruf “G” pada kata yang akhirannya “N”. Terkadang juga karena kekurangan vitamin G yaitu mengurangi huruf “G” pada kata yang akhirannya “NG”. Saya akan memberi contoh (Eittss…. jangan tertawa ya)
· Ayo pergi nontong konser na Agnes Monica
· Jangan makang terlalu banyak
· Mari kita salin menghormati satu sama laing
Memannya kenapa?
Kedengarannya lucu memang, tapi disitulah khasnya. Terlepas dari pengaruh logat suatu daerah terhadap penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, apakah Bahasa Indonesia yang baik dan benar masih sering digunakan?
Tentu saja, secara formal Bahasa Indonesia yang baku dan sesuai dengan ejaan yang disempurnakan masih sering digunakan. Contohnya pada saat menulis surat-surat resmi, menulis di surat kabar dan media elektronik lainnya, menulis makalah, skripsi, laporan, tesis, berbicara di forum publik misalnya pada saat mengajar, presentasi, berpidato, dan sebagainya.
Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, pemersatu dari ribuan bahasa daerah yang ada di bumi nusantara ini. Bahasa yang dipakai oleh ratusan juta penduduk Indonesia yang berbeda suku dan bahasa agar kita dapat saling berkomunikasi dan memahami satu sama lain dengan baik. Mari kita cintai Bahasa Indonesia caranya antara lain dengan banyak membaca buku berbahasa Indonesia agar kosakata kita bertambah dan rajinlah menulis untuk memperbaiki penuturan dan tata bahasa kita.
SERI PESAN DARI SEORANG TEMAN
apa KEKUATAN atau KELEMAHAN ?
Okkot adalah istilah yang merujuk pada pengucapan yang keliru, entah karena tidak sesuai dengan penulisannya atau karena kesalahan memahami konteks.
Di Makassar, istilah okkot tidak pernah lekang. Ia adalah fenomena yang terus mengiringi perubahan dan perkembangan kota.
Di Makassar, istilah okkot tidak pernah lekang. Ia adalah fenomena yang terus mengiringi perubahan dan perkembangan kota.
Contoh umumnya, orang di Makassar cenderung mengucapkan ”ikang” untuk menyebut ”ikan”. Tidak sedikit warga pendatang yang mengaku butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan bahasa khas Makassar, termasuk okkotnya.
Kata okkot berasal dari okko’ (bahasa Makassar) yang secara harfiah artinya sesuatu yang melewati garis pembatas (umumnya digunakan dalam permainan anak tradisional). Dalam perkembangan selanjutnya, okkot (ditambahkan ”t”) populer digunakan untuk merujuk kesalahan pengucapan, yang di Makassar umumnya terjadi pada kata-kata berakhiran ”n” yang diucapkan dengan bunyi ”ng”, atau sebaliknya, kata berakhiran “ng” diucapkan sebagai “n”. Kadangkala jika kita mendengarkan cara bicara orang yang okkot, timbul perasaan geli. Kata “KAPAN” dalam Bahasa Indonesia kita pahami sebagai kata tanya untuk keterangan waktu… seperti dalam kalimat “Kapan kamu akan pergi?” berarti sang penanya pengen tahu waktu kepergian orang yang ditanya…namun kata
“KAPAN” dalam bahasa sehari-sehari di suku BUGIS dan MAKASSAR mempunyai makna yang berbeda, bukan lagi berfungsi sebagai kata tanya keterangan waktu, namun berfungsi sebagai kata keterangan probabilitas (kemungkinan)… untuk lebih jelasnya saya beri contoh sebagai berikut:
“KAPAN” dalam bahasa sehari-sehari di suku BUGIS dan MAKASSAR mempunyai makna yang berbeda, bukan lagi berfungsi sebagai kata tanya keterangan waktu, namun berfungsi sebagai kata keterangan probabilitas (kemungkinan)… untuk lebih jelasnya saya beri contoh sebagai berikut:
- “Sudahmi kapang” bermakna “Mungkin udah kelar”
- “Belumpi kapang” bermakna “Mungkin belum”
- “Besokpi kapang” bermakna “Mungkin baru besok”
- dsb.
- “Belumpi kapang” bermakna “Mungkin belum”
- “Besokpi kapang” bermakna “Mungkin baru besok”
- dsb.
Sedikit catatan, mungkin ada diantara anda yang heran karena ada tambahan huruf G di akhir kata KAPAN pada contoh di atas. yup, sudah menjadi rahasia umum kalo dalam percakapan sehari-hari di Bugis Makassar, setiap kata yang berakhiran N selalu diucapkan dengan tambahan huruf G, sehingga akan terdengar berdengung (NG), seperti contoh kata pelabuhan menjadi pelabuhang, kata makan menjadi makang, dan kata perempuan menjadi perempuang.. fenomena ini disebut OKKOTS dan bisa kita jumpai pada percakapan sehari-hari di Bugis Makassar.
Okkots bukan hanya peristiwa dimana terdapat tambahan huruf G pada kata yang berakhiran huruf N, tetapi Okkots juga terjadi apabila sebuah kata yang berakhiran
NG malah hanya diucapkan tidak berdengung atau hanya huruf N nya saja..
Contoh: ”Berapa harga rambutang ini?” Kata rambutan di sini diucapkan sebagai ”rambutang”.
NG malah hanya diucapkan tidak berdengung atau hanya huruf N nya saja..
Contoh: ”Berapa harga rambutang ini?” Kata rambutan di sini diucapkan sebagai ”rambutang”.
Menanggapi kebiasaan menambah bunyi ”ng” pada kata berakhiran ”n” inilah yang memunculkan istilah ”Kelebihan Vitamin G”.
Yang menjadi ciri khas okkot di Makassar adalah pengucapan ”ng” untuk kata berakhiran ”n” dan ”m”.
Contoh: ”Kami datang berenang…”
Yang menjadi ciri khas okkot di Makassar adalah pengucapan ”ng” untuk kata berakhiran ”n” dan ”m”.
Contoh: ”Kami datang berenang…”
Hati-hati mengartikannya, karena yang dimaksud adalah ”Kami datang berenam..” (ada 6 orang yang datang,bukannya datang dengan cara berenang).
Banyak yang percaya, kesulitan mendisiplinkan lidah mengucapkan kata-kata berakhiran ”n” atau ”m” ini dipengaruhi oleh sangat banyaknya kosa kata bahasa Makassar dan bahasa Bugis yang berakhiran ”ng”.
Sekiang dulu dech…
Jangang mi panjang-panjang cape’ki nulis daeng…
Banyak yang percaya, kesulitan mendisiplinkan lidah mengucapkan kata-kata berakhiran ”n” atau ”m” ini dipengaruhi oleh sangat banyaknya kosa kata bahasa Makassar dan bahasa Bugis yang berakhiran ”ng”.
Sekiang dulu dech…
Jangang mi panjang-panjang cape’ki nulis daeng…
-Rheny Eka Lestari-
